Musafir dan Mukim | Abdul Somad

0
305
Ust. Abdul Somad, Lc. MA (Sumber oto : wikipedia.com)

Kehormatan besar bagi masyarakat Riau menjadi tuan rumah pertemuan para imam sedunia. Namun saat melaksanakan Salat Zuhur berjamaah di Masjid Agung An-Nur pada hari Selasa (3/12) yang lalu ada beberapa hal yang mengusik hati jamaah untuk bertanya.

Di antaranya, mengapa lafaz iqamat berbeda dari biasanya? Kedua, imam melaksanakan Salat Zuhur dua rakaat (karena imam melaksanakan Salat Zuhur dan Asar Jamak Qashar Jamak Taqdim) sementara makmum tetap  empat rakaat, apakah ada tuntunan demikian?

Bahkan ada beberapa jamaah muqim (bermukim) yang ikut salam bersama imam, padahal bukan musafir.

Ketika imam selesai dua rakaat, kemudian melanjutkan Salat Asar Jamak Qashar Jamak Taqdim bersama jamaah lain yang musafir, sementara jamaah yang muqim masih tetap Salat Zuhur, dengan shaf yang tidak beraturan.

Tentulah masalah ini perlu penjelasan.

Masalah Iqamat
Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali sepakat bahwa lafaz Iqamat seperti yang biasa kita dengar selama ini. Sedangkan menurut Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki, lafaz iqamat sebagai berikut: Allahu Akbar (empat kali). Asyhaduan la ilahaillallah (dua kali). Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah (dua kali).Hayya ‘ala ash-Shalah (dua kali). Hayya ‘ala al-Falah (dua kali). Qadqamati ash-shalah (dua kali). Allahu Akbar (dua kali) dan La ilahaIllallah (satu kali). Demikian disebutkan dalam al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, juz.1, hal.484.

Lafaz iqamat versi tujuh belas kalimat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Mahdzurah, disebutkan dalam kitab Sunan Abi Daud, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibni Majah dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

Musafir Menjadi Imam bagi Mukim
‘Imran bin Hushain meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW musafir ke Makah pada peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makah) tahun kedelapan Hijrah, Rasulullah SAW melaksanakan salat bersama orang banyak, beliau salat dua rakaat, kecuali Salat Maghrib.

Setelah salat, Rasulullah SAW mengatakan, “Wahai penduduk Makkah, berdirilah, laksanakanlah salat dua rakaat lagi, karena kami adalah orang-orang yang musafir”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Imam at-Tirmidzi. Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi.

Dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang dha’if, akan tetapi Imam at-Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits hasan karena ada beberapa riwayat lain yang semakna dengannya.

Demikian disebutkan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Imam Malik juga meriwayatkan riwayat yang sama dalam kitab al-Muwaththa’, diriwayatkan dari Umar.

Para perawinya adalah para perawi yang tsiqah (terpercaya). Demikian disebutkan Imam asy-Syaukani dalam Nail al-Authar, juz 3, hal.166.

Berdasarkan hadits ini para ahli Fiqh sepakat bahwa musafir boleh menjadi imam bagi muqim, akan tetapi Imam Syafi’i menyebutkan secara nash (teks) dalam kitab al-Umm bahwa hukumnya makruh, karena imam lebih dahulu selesai dari pada makmum, demikian disebutkan Imam al-Mawardi dalam al-Hawy al-Kabir, juz.2, hal.889. Mazhab Maliki juga memakruhkannya, karena niat imam berbeda dengan niat makmum.

Dianjurkan bagi imam yang musafir ketika selesai dua rakaat, kemudian salam, mengucapkan, “Sempurnakanlah salat kalian, karena kami musafir”. Untuk menolak keraguan jamaah bahwa imam telah terlupa jumlah rakaat, juga untuk memberitahu kepada orang yang tidak mengerti.

Mazhab Hanafi menyatakan bahwa kalimat tersebut disebutkan sebelum salat, jika tidak disebutkan sebelum salat, maka disebutkan setelah salat. (al-Fiqh al-IslamywaAdillatuhu, Syekh Wahbahaz-Zuhaily, juz 2, halaman 1.359).

Antara Mukim dan Musafir
Jika muqim dan musafir berkumpul, siapakah yang lebih berhak menjadi imam? Jika kemampuan mereka sama, maka muqim lebih utama menjadi imam, demikian disebutkan Imam al-Mawar di dalam al-Hawy al-Kabir, juz.2, hal.889, Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz.4, hal.287.

Demikian juga disebutkan dalam Fath al-Qadir, juz.2, hal.179, al-Bahr ar-Ra’iqsyarh Kanz ad-Daqa’iq, juz.3, hal.392 dan Maraqi al-Falah, juz.1, hal.143.

Menghormati Imam Ratib (Imam Tetap)
Sebenarnya peristiwa yang dikeluhkan jamaah di atas tidak akan terjadi jika ada sikap menghormati Imam Ratib (imam tetap), sebagaimana disebutkan dalam Fatwa Lembaga Riset dan Fatwa Saudi Arabia, “Hukum asalnya, seseorang tidak boleh mengimami orang banyak di suatu masjid yang memiliki Imam Ratib, kecuali seizin Imam Ratib tersebut, karena kedudukan Imam Ratib itu seperti seorang pemilik rumah, dialah yang lebih berhak menjadi imam, berdasarkan sabdaRasulullah SAW dalam hadits riwayat Imam Muslim, “Seseorang tidak boleh mengimami orang lain yang ia berada dalam kekuasannya dan tidak boleh duduk di atas apa yang dibentangkan untuknya, kecuali dengan izinnya”. (al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyahwa al-Ifta’, juz.9 hal.456).

Komentar Imam an-Nawawi terhadap hadits ini, “Pemilik rumah, pemilik majelis dan imam Ratib lebih berhak menjadi imam daripada orang lain, meskipun orang lain itu lebih faqih, lebih banyak dan lebih baik bacaannya, lebih wara’ dan lebih utama”. (SyarhShahih Muslim, juz.2, hal.477).

Penutup
Pada suatu kesempatan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rabat Kerajaan Maroko mengundang Syekh Dr Ahmadar-Ruky untuk memberikan taushiyah Ramadan sekaligus Imam Salat Tarawih, beliau memimpin Salat Tarawih dengan Qira’at Hafsh, setelah salat, ada mahasiswa yang bertanya, “Mengapa Syekh membaca dengan Qira’at Hafsh, bukankah orang Maroko terbiasa membaca dengan Qira’at Warsy?”.

Beliau menjawab, “Kalian telah terbiasa dengan Qira’at Hafsh”. Sungguh sebuah Fiqh Da’wah yang dapat mendidik orang alim dan tidak membingungkan  orang  awam.***

Abdul Somad : Alumni Dar Al-Hadith Institute, Kerajaan Maroko