AYAH DAN IBU NABI MUHAMMAD SAW: MUSLIM ATAU KAFIR? | Ust. Sofiandi, BA, M.HI

0
581
Ilustrasi (Sumber : islamicity.org)

INDRAGIRI.com, KHAZANAH – Akhir-akhir ini banyak sekali diskursus dan opini yang dilemparkan oleh orang-orang dengan memberikan sebuah stigma bahwa sesungguhnya orang tua Nabi Muhammad SAW, ayah dan ibunda beliau adalah termasuk golongan orang-orang kafir. Sukar untuk dipahami secara jelas motivasi yang ada di dalam diri mereka-mereka yang melayangkan opini ini, sehingga kita tidak mengerti betul apa sesungguhnya yang mereka inginkan. Mungkin saja hanya sekedar ingin populer dengan cara yang nyeleneh atau mungkin saja Allah SWT senggaja menggerakkan hati mereka untuk mengatakan hal ini agar jelas siapa diantara kita yang sesungguhnya munafik dan kafir sejati. Bukankah kalau kita kaji sejarah, bahwa sesungguhnya orang-orang yang suka menyudutkan Rasul bahkan mendeskreditkan beliau adalah melulu orang-orang munafik dan kafir? Entahlah….

Mari kita kaji firman Allah berikut:

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

Artinya: Dan kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang rasul (al-Isra’: 15)

Dalam tafsir al-Qurtubi dikatakan bahwa ayat ini merupakah hujjah bagi ahlul fatrah bahwa mereka, dikarenakan hidup pada masa tidak adanya nya nabi atau rasul, adalah orang-orang yang terbebas dari azab Allah SWT. Ayah Nabi Muhammad SAW yang bernama Abdullah dan Ibunya yang bernama Aminah hidup pada masa kekosongan nabi, yaitu pada masa (baca: diantara masa) setelah diangkatnya Nabi Isa A.S dan sebelum ditetapkannya syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Terbebasnya mereka dari azab Allah SWT karena tidak adanya rasul dan syariat yang berlaku saat mereka masih hidup. Sedangkan syariatnya Nabi Isa telah jauh melenceng dari yang sebagaimana aslinya. Demikianlah keyakinan Ahlussunnah waljamaah.

Apa itu fatrah? Kata fatrah disebutkan dalam kitab suci al-Qur’ân, yaitu dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Wahai ahli kitab, sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada kamu, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika fatrah (terputus pengiriman) Rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Maidah:19)

Secara bahasa fatrah berarti terputus atau lemah. Adapun menurut istilah, fatrah adalah zaman antara dua Rasul dari para Rasul Allâh Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Mukhtârus Shihhah)

Dalam buku Adillatu Mu’taqad Abi Hanifah al-A’zham fî Abawai ar-Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditulias oleh Ali bin Sulthân Muhammad al Qâri, dikatakan bahwa ahlu fatrah adalah orang-orang yang hidup di zaman fatrah. Syaikh Masyhûr bin Hasan Alu Salmân hafizhahullah mengatakan, “Yang benar, ahlu fatrah adalah orang-orang yang hidup di antara dua rasul. Rasul yang pertama tidak diutus kepada mereka (yakni dakwahnya tidak sampai ke masa hidup mereka-red), dan mereka belum menemui rasul yang kedua.”

Imam Ibnu Taimiah didalam bukunya Majmu’ al-Fatawa mengatakan bahwa sesungguhnya al-Quran dan Sunnah menunjukkan bahwa Allah tidak mengazab seorangpun keculi setelah sampainya risalah kepada mereka. Siapa yang tidak sampai risalah kepadanya secara keseluruhan, maka ia tidak diazab sama sekali. Siapa yang risalah sampai kepadanya secara keseluruhan tapi tidak terperinci, maka ia diazab hanya pada perkara yang ia ingkari saja.

Hadist dari Anas yang mengatakan bahwa bahwa Nabi berkata,”sesungguhnya bapakku dan bapakmu dineraka” saat menjawab pertanyaan seseorang sebagai mana diriwayatkan oleh Muslim, bukanlah hadist yang bisa dijadikan hujjah bahwa ayah Nabi seorang kafir yang ahli neraka. Sesungguhnya kata “bapak” yang dimaksudkan di hadist tersebut adalah paman Nabi SAW yaitu Abu Thalib, bukan Abdullah. Karena orang Arab biasa menyebut paman dengan sebutan “Abi”. Abu Thalib bukan lah termasuk ahlul fatrah karena dia tidak beriman setelah Nabi SAW diutus menjadi Rasulullah.

Ada juga hadist dari Abu Hurairah dalam kitab shahih Muslim yang mengatakan bahwa Nabi memohon kepada Allah untuk diizinkan memohon ampunan untuk ibunya namun tidak diizinkan oleh Allah. Lalu kemudian Nabi memohon untuk diizinkan menziarahi kuburan ibunya lalu hal ini diizinkan. Sesungguhnya hadist ini tidaklah menyebutkan bahwa Aminah adalah ahli neraka. Hadist ini secara gamblang hanya menyebutkan bahwa Nabi SAW tidak diberi izin untuk memohon ampunan bagi ibunya. Dan hal ini tidak berarti serta merta kafir karena kemudian Allah pada akhirnya memberikan izin untuk berziarah ke kuburannya. Jika saja ibunya kafir, tentu Allah SWT larang juga nabi SAW pergi menziarahinya. Sebagaiman Nabi SAW juga pernah dilarang oleh Allah untuk mendoakan seorang sahabatnya, bukan karena dia kafir, tapi karena dia mati dalam keadaan masih punya hutang yang belum dibayar. Wallahu ‘Alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here