Menggali Kearifan Melayu Menangani Banjir | Chairul Anwar

0
183
Ilustrasi Banjir (Sumber Foto : google.com)
Ilusrasi (Sumber Foto : google.com)

Bencana musiman setiap tahun terjadi di Riau. Kebakaran hutan yang berujung kabut asap di musim kemarau, dan banjir hampir di setiap kabupaten kota kala musim hujan.

Bulan-bulan sekarang ini siklusnya musim hujan, maka kita lihat media lokal dan juga media nasional diramaikan berita banjir di negeri Melayu ini.

Beberapa waktu lalu hujan diminta, hujan dibuat. Sekian ton garam ditabur, miliaran dana dikucurkan untuk menghadirkan hujan buatan, sebagai solusi kabut asap akibat kebakaran hutan di Riau yang sempat menjadi isu internasional.

Di bulan Oktober-November ini hujan mengguyur secara gratis, tidak diminta, tapi sudah diduga, karena siklus musimnya sudah tiba.

Hujan buatan bisa dibuat, tapi hujan alami tidak bisa dicegah, ini yang dipahami penulis. Kecuali kalau pembaca percaya pawang hujan, itupun konon bukan dicegah tapi dipindah.

Hujan buatan memerlukan biaya besar, ratusan juta hingga miliaran rupiah. Hujan alami memang pada prosesnya kita tidak mengeluarkan biaya, tapi dampak yang ditimbulkan menghadirkan kerugian teramat besar, mulai dari harta benda hingga nyawa. Meski begitu, hujan ini tak layak dipersalahkan.

Mengapa hujan tak layak dipersalahkan? Mari sejenak kita bernostalgia. Tentang hujan, tentang hutan, tentang sungai. Melayu, hutan dan sungai adalah sebuah cerita, cerita tentang cinta. Hampir tak ada masa belia tanpa hutan dan sungai dalam cerita.

Masa itu adalah waktu di mana masyarakat, hutan dan sungai menghabiskan waktu bersama. Sejak bangun tidur, sungai dahulu yang dituju, karena rumah-rumah dibangun tidak jauh darinya. Aktivitas sepanjang haripun banyak dilakukan di sungai, terutama oleh ibu-ibu.

Dahulu hutan adalah kekayaan, ada yang bisa langsung dinikmati, dan ada yang harus diolah terlebih dahulu. Buah-buahan, hewan buruan, kayu untuk membangun rumah serta kekayaan lainnya mudah didapat.

Dahulu hutan juga ditebang dan dibakar, untuk membuka ladang. Tapi tidak serampangan. Ada kesadaran dan ada aturan adat yang mengkoordinasikan.

Keluarga mana yang boleh tebang dan membakar lebih dahulu, setelah api diyakinkan telah padam lalu dilanjutkan oleh keluarga lain. Begitu seterusnya sehingga titik api terkendali.

Hutan yang ditebang dan dibakar tidaklah banyak, bukan skala industri. Tidak akan berdampak signifikan terhadap kerusakan hutan.

Ketika curah hujan tinggi, tanah akan menyerap airnya, sehingga jarang terjadi banjir besar, dan ini jugalah yang mencegah bencana kekeringan di musim kemarau.

Dahulu sungai ibarat jalan raya, perahu lalu lalang bergerak membawa masyarakat ke hulu dan ke hilir. Menjadi penghubung antarkampung yang satu dengan kampung yang lainnya, penghubung warga pinggiran pantai dengan pedalaman. Bahkan pada sungai besar, kapal-kapal dagang antar negara pun melaluinya.

Dahulu sungai melimpah akan ikan, sumber utama masyarakat mencari rezeki. Jala ditebar perut terisi, lukah dianyam, lukah ditanam memerangkap ikan. Dayung dikayuh menggerakkan roda perekonomian, riak sungainya mewarnai dinamika kehidupan.

Masyarakat dan sungai saling bersilaturrahmi, mereka saling mengunjungi. Musim kemarau sungai dikunjungi, di musim hujan sungai yang mengunjungi.

Dalam dialog yang tak pernah ditulis, sungai berkata, “Pada masa-masa tertentu kami akan berkunjung ke rumah tuan”. Dan masyarakat dengan senang hati menyambut banjir di kolong-kolong rumah panggung mereka.

Rumah panggung, rakit, perahu, adalah bukti harmonisasi Melayu dan sungai. Banjir bukan tidak ada, tapi banjir tak selalu berbuah derita di kala itu.

Rumah-rumah warga, yang sekarang masih bisa lihat di kampung-kampung Melayu, banyak yang menghadap ke sungai. Pinggiran sungai menjadi halaman, tempat anak-anak bermain, tempat warga bercengrama.

Desain rumah panggung juga mengisyaratkan bahwa masyarakat sudah mengantisipasi banjir. Dermaga dari rakit yang mengapung ketika banjir juga mengambarkan fleksibilitas teknologi yang bersahabat dengan alam.

Itulah nostalgianya, dan bagi penulis sangat memberi inspirasi dalam menghadapi bencana banjir pada masa sekarang ini.

Dari cerita nostalgia tadi, ada tiga inspirasi dalam mengantisipasi banjir yang ingin penulis sampaikan. Yakni tentang masalah hutan yang merupakan hulu sungai, daerah aliran sungai (DAS) dan banjir perkotaan.

Pertama tentang hutan. Kerusakan hutan yang ada sekarang harus segera diatasi dan diantisipasi agar tidak semakin rusak. Di sini peran masyarakat adat haruslah dioptimalkan. Dimulai dari pengembalian hak-hak hutan ulayat, dan penguatan terhadap aturan adat dalam melindungi hutan.

Pengembalian hak ulayat dilakukan dengan memetakan ulang mana yang kawasan hutan lindung dan mana yang milik ulayat. Ketidaktelitian dan kecerobohan pusat dalam pemetaan kawasan lindung banyak yang menyebabkan hutan ulayat dan kampung asli masuk peta kawasan lindung.

Kerancuan ini harus segera dituntaskan. Hutan lindung dikelola negara, hutan ulayat dijaga masyarakat. Dibanding hutan yang dikelola negara, boleh kita lihat, hutan adat lebih terawat.

Selanjutnya penguatan aturan adat. Ini untuk menjaga kearifan lokal masyarakat, yang sejatinya merupakan penjaga kelestarian hutan, dari pengaruh negatif yang dibawa pendatang dan perusahaan. Para pendatang sering menebang dan membakar tanpa aturan.

Lebih dahsyat lagi perusahaan, lewat kaki tangannya melakukan hal itu dalam skala besar, sehingga dampak kerusakannya jauh lebih besar dan ekosistem hutan menjadi kacau balau.

Pengaruh negatif pendatang dan perusahaan ini juga merubah persepsi ekonomi masyarakat, sehingga turut mengeksploitasi hutan. Ini harus diluruskan kembali.

Kedua, tentang DAS. Penataan pembangunan daerah aliran sungai mesti dikembalikan kepada kearifan lokal. Kampung-kampung Melayu dengan rumah panggungnya harus dipertahankan, sehingga menjaga budaya bahkan bisa menjadi tujuan wisata.

Pemerintah harus berperan besar dalam hal ini. Karena telah banyak keterlanjuran yang mengakibatkan kerusakan, daerah aliran sungai ini harus segera diantisipasi dengan membangun bendungan dan saluran irigasi, sehingga debit air bisa dikendalikan.

Pemerintah daerah juga harus menata pembangunan rumah-rumah di sepanjang aliran sungai, masyarakat diarahkan agar menjadikan pinggiran sungai sebagai halaman tertata yang senantiasa didatangi, bukan sebaliknya menjadi kumuh yang dihindari.

Selain itu pembangun turap sungai harus dimasifkan untuk mencegah luapan air dan sebagai dinding penahan agar tidak tergerus ataupun longsor.

Ketiga, tentang banjir kota. Sudah banyak solusi yang disampaikan tentang hal ini, salah satunya adalah konsep Waterfront City. Konsep inilah yang penulis pilih.

Konsep Waterfront City bukanlah barang baru. Konsep ini sudah dilakukan di Riau sejak zaman kerajaan. Ini bisa dilihat dari Kerajaan Siak Sri Indrapura yang menghadap ke sungai, dan juga pelabuhan-pelabuhan besar pada masa itu.

Untuk kota Pekanbaru, sebagai ibu kota Provinsi Riau, wacana konsep ini sudah pernah digulirkan pada 2002. Alhamdulillah sekarang mulai dijalankan, meski baru pada proses pembebesan lahan.

Konsep waterfront city di Pekanbaru ini layak kita dukung dan bantu sosialisaksan. Dengan penataan rumah penduduk yang menjadikan pinggiran sungai sebagai halaman, serta membangun ruang terbuka hijau di pinggiran sungai siak, maka Sungai Siak bisa tampil eksotis dan memikat wisatawan seperti layaknya Sungai Melaka di Kota Melaka, Malaysia.

Agar ini terwujud sungai S
ungai Siak haruslah bersih dan tidak berbau busuk, maka pabrik-pabrik di tengah kota seperti pabrik karet harus digesa pemindahannya.

Poin penting yang menjadi kunci dari konsep ini dalam menanggulangi banjir adalah drainase. Darinase haruslah terintegrasi ke kanal dan anak sungai yang bermuara ke Sungai Siak.

Penataan drainase untuk kota yang pesat dengan pembangunan ruko dan perumahan ini perlu diperhatikan serius, karena inilah yang sering menjadi penyebab banjir kota. Dengan penataan drainase ini juga kita harapkan genangan-genangan air di jalan raya bisa diminimalkan ketika hujan turun.

Penulis bukanlah budayawan dan bukan pula ahli tata kota, tulisan ini lebih mengajak kita semua untuk menggali kearifan lokal dalam mencari solusi untuk mengatasi bencana di negeri yang kita cintai ini.

Chairul Anwar :  Anggota Komisi V DPR RI