Gerhana Matahari Dalam Pandang Islam | Ust. Sopiandi, BA. M.HI

0
618

INDRAGIRI.com, Khazanah – Sekali lagi Indonesia menjadi pusat perhatian dunia internasional. Namun kali ini bukan karena fenomena politik, ekonomi atau sosialnya yang menjadi objek perhatian dunia, namun karena menurut prakiraan, tepat pada tanggal 9 Maret 2016 ini akan terjadi fenomena alam yang jarang sekali untuk dapat disaksikan dan bahkan jarang sekali manusia yang bisa menjadi saksi sejarah, paling tidak dalam hidupnya pribadi, yaitu terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT).

Menjadi lebih istimewa, selain fenomena langit ini merupakan Gerhana Matahari Total pertama pada abad ke 21, juga karena GMT ini hanya dapat di lihat di wilayah Indonesia saja (selebihnya di wilayah Pasifik), dan itupun hanya berpeluang disaksikan dari sebelas profinsi saja. Secara astronomi, saat terjadinya GMT ini, cakupan luas bayangan bulan hanya seluas 100 hingga 150 KM persegi, sehingga suasana saat terjadinya GMT seperti layaknya malam hari, tetapi tidak terlalu gelap. Lebih tepatnya, suasana terlihat seperti senja menjelang malam menjelma.

Sebagai manusia, fenomena langit berupa GMT ini merupakan sebuah keajaiban yang sangat menggemparkan. Pernah dulu terjadi hal yang sama di Indonesia pada tahun 1983, 1988 dan 1995. Yang menarik dilihat pada tahun-tahun terjadinya GMT tersebut, banyak sekali cerita-cerita, mitos-mitos dan kepercayaan-kepercayaan tidak logis yang berkembang ditengah masyarakat. Ada yang mempercayai ini sebagai tanda kemarahan dewa, ada yang melarang ibu-ibu hamil untuk keluar rumah pada saat terjadinya gerhana, tidak boleh makan dan memasak pada saat terjadinya gerhana karena makanan pada saat itu beracun, dan lain sebagainya.

Bahkan lebih dari pada itu, banyak juga cerita-cerita lain yang membodohi masyarakat luas hingga saat ini, seperti matahari ditelan oleh naga, raksasa atau setan sehingga para lelaki harus keluar rumah sambil memukul-mukul piring atau alat dapur lainnya, atau bahkan cerita yang mengatakan tentang kemunculan manusia srigala dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagai manusia yang beragama perlu kiranya kita memandang kejadian astronomi ini sebagai sebuah kemaha-kuasaan Allah SWT.

Sama seperti kita semua sebagai manusia, matahari dan bulan sejatinya juga merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. Manusia sebagai khalifah satu-satunya di atas muka bumi ini, diberi oleh Allah SWT segala kelengkapan yang bisa ia gunakan untuk menjalani kehidupannya, dan matahari-bulan itulah salah satu kelengkapan yang berguna bagi kehidupan manusia. Sistem kerjanyapun diatur oleh Allah SWT (lihat surat Ar-Rahman ayat 5), sehingga tidak ada satu makhluk pun yang sanggup mengatur peredaran matahari dan bulan ini sesistematis sebagai mana yang telah Allah SWT lakukan hingga hari kiamat nanti.

Karena itulah, apapun yang terjadi kepada matahari dan bulan itu (bahkan pada seluruh makhluk Allah SWT lainnya) tidak luput dari kehendak-Nya. Sehingga segala yang menakjubkan dan luar biasa tersebut merupakan tanda-tanda serta bukti-bukti keagungan, kebesaran dan kesempurnaan penciptaan-Nya.

Mari kita renungkan firman Allah SWT pada surah Fushshilat ayat 37 berikut ini: ”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya”. Ayat ini membantah fenomena ritual dan penyembahan serta praktek klenik lainnya yang terjadi di tengah masyarakat menyangkut kejadian GMT ini.

Gugurlah semua pikiran, ide dan sejenisnya yang berasal dari para wikan, peramal, paranormal atau “orang pintar” lain yang mengatakan bahwa selang beberapa hari atau beberapa minggu dari gerhana, di daerah tertentu akan terjadi bencana alam, wabah penyakit, keributan atau bentrok antar massa dan sebagainya. Inilah bentuk kesyirikan yang nyata.

 Agama Islam yang berlandaskan kemurnian tauhid dan kelurusan aqidah, menjelaskan hakekat sebenarnya gerhana. Tentu saja penjelasan yang datang dari sudut pandang Islam adalah yang bersumber dari Pencipta dan Pengatur matahari-bulan dan pergerakannya, bahkan seluruh alam semesta ini sehingga sangatlah jauh dari kebatilan mitos, takhayul, dan kesyirikan para penyembah alam, jauh pula dari kelalaian kaum rasionalis (baca: orang pintar). Apabila kita membuka kitab-kitab para ulama dan fuqaha Islam dari kalangan Ahlus Sunnah akan kita dapati penjelasan tentang gerhana dalam tinjauan Syariat Islam dengan pembahasan lengkap dan mencukupi.

Kalau kita tengok jauh ke belakang, tepatnya pada masa hidupnya Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya fenomena langit ini pernah juga terjadi. Menurut ulama, gerhana ini terjadi pada 29 Rabi’ul Awal tahun 10 Hijriah, bertepatan dengan meninggalnya putera beliau yang tercinta yaitu Ibrahim. Kejadian meninggalnya putera beliau inilah yang dijadikan objek takhayul orang-orang pada saat ini dengan mengatakan bahwa kematian ini disebabkan oleh gerhana tersebut. Mendapati hal ini, Rasulullah SAW kemudian menegur para sahabat-sahabatnya dengan perkataan yang sangat tegas, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Bukhari-Muslim, “Dari Abu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran Allah, di mana Allah menakuti hamba-Nya. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang manusia, akan tetapi keduanya merupakan dua tanda kebesaran Allah, apabila kamu menyaksikannya, maka laksanakan shalat dan berdoalah kepada Allah sehingga dikembalikan kembali oleh Allah”.

Dari hadist ini, sangat jelas bahwa fenomena gerhana matahari dan bulan adalah fenomena yang sengaja diciptakan oleh Allah SWT dengan tujuan untuk menunjukkan tanda kebesaran Allah SWT. Oleh karenanya, bagi kita makhluk Allah yang lemah ini mestilah meneliti lebih jauh lagi, apa yang seharusnya kita ambil dari hikmah kejadian yang extraordinary ini. Paling tidak, beberapa hal yang kita pahamai adalah:

Pertama, gerhana adalah perbuatan Allah SWT yang dimaksudkan sebagai peringatan bahwa Allah SWT itu ada, maha kuasa dan semestinya kita takut kepada-Nya serta menjadi lebih takut lagi dengan membayangkan kengerian yang pasti terjadi pada hari kiamat nanti dimana seluruh alam raya ini diguncang sehingga semuanya saling bertabrakan, hancur tanpa satupun yang selamat.

Kedua,  Islam memberantas segala keyakinan, kepercayaan dan aqidah yang tidak logis, diantaranya yang bersumber dari peramal (baca: ahli nujum) yang meyakini bahwa pergerakan serta peredaran bintang, planet dan benda-benda langit lainnya memberikan pengaruh, atau paling tidak, ada kaitannya dengan kejadian-kejadian di bumi, yang dikenal dengan zodiak, shio, atau nama yang lainnya sesuai dengan asal kepercayaan masing-masing yang digagas oleh para rohaniawan atau paranormal.

Ketiga, tuntunan Islam ketika terjadinya gerhana adalah shalat gerhana, berdoa, beristigfar, bertakbir berzikir dan bersedekah, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi SAW dalam hadist-hadistnya (Lihat hadist riwayat al-Bukhari no. 1040, 1044, 1059, 2519 serta riwayat Muslim no. 901, 912, 914).

Marilah kita jadikan fenomena GMT ini sebagai wahana untuk mempertebal keimanan kepada Allah SWT sehingga mampu membawa kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia sesungguhnya. Amin. (*)

______________________________________

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here