Home Khazanah HARI JUMAT: Adakah Alternatif Selain Shalat Jumat? | Ust. Sopiandi, BA. M.HI

HARI JUMAT: Adakah Alternatif Selain Shalat Jumat? | Ust. Sopiandi, BA. M.HI

0
HARI JUMAT: Adakah Alternatif Selain Shalat Jumat? | Ust. Sopiandi, BA. M.HI
Ilustrasi (Sumber : pixabay.com)

INDRAGIRI.com, KHAZANAH – Kesibukan dalam hal pekerjaan dan pelaksanaan tugas serta tanggung jawab yang dibebani seringkali membuat kita berada dalam persimpangan bahkan kebingungan untuk mengambil sikap terkait pelaksaan hal-hal duniawi tersebut dengan kewajiban pelaksanaan ibadah sebagai seorang hambanya Allah SWT. Terlebih jika hal itu terjadi pada hari Jumat, dimana seringkali kita sebut hari tersebut sebagai hari tanggung atau terjepit karena terdapat jeda yang panjang akibat dari pelaksanaan shalat Jumat. Namun bukan masalah terjepit atau tanggungnya waktu tersebut yang akan kita bahas, melainkan apakah agama Islam yang pada hakikatnya “yassir wala tu’assir” ini memberikan solusi yang win-win bagi ketenangan bathin kita sebagai hamba tatkala pada moment yang sama kita dihadapkan pada tugas duniawi dan kewajiban ukhrowi?

Masalah pelaksanaan shalat Jumat, dalam sejumlah kitab fikih, sudah dibicarakan secara sangat detail, sejak ratusan tahun yang lalu. Bagaimana status hukum shalat jumat itu sendiri? Di dalam kitab Bidayatul Mujtahid, jumhur ulama berpendapat bahwa status hukum shalat jumat itu wajib. Namun, terdapat juga pendapat ulama-ulama lainnya yang mengatakan bahwa status hukumnya adalah fardhu kifayah (dimana jika orang lain sudah melaksanakannya, maka kita tidak diwajibkan lagi melakukan hal yang sama. Berbeda dengan fardhu ‘Ain yang melekat beban kewajiban atas setiap individu).

Didalam kitab Al-Majmu’ Al-Muhazzab, karya Imam Nawawi, beliau juga mengatakan hal yang sama, yaitu status hukum shalat jumat adalah fardhu kifayah. Lebih ‘extrim’ lagi adalah pendapatnya Imam Malik, beliau mengatakan bahwa status hukum shalat jumat adalah sunnah meskipun oleh Ibnu Rusyd dikatakan bahwa riwayat yang mengatakan bahwa Imam Malik mengatakan hal ini adalah syadz (aneh).

Maka dari sini, bisa kita simpulkan bahwa bagi siapa saja yang karena satu dan lain hal tidak bisa ikutan shalat jumat, bisalah kiranya berpegangan pada pendapat yang mengatakan shalat jumat itu hukumnya fardhu kifayah, sehingga dia cukup hanya dengan melaksanakan shalat dhuhur sebagai penggantinya.

Namun, bagi yang berpendapat bahwa hukum shalat jumat itu adalah fardhu ‘ain alias wajib bagi setiap individu, maka carilah solusi sehingga bisa meninggalkan tugas duniawi tersebut untuk sementara waktu demi pelaksanaan shalat jumat. Atau kalaupun tidak mungkin, maka cukup melaksanakan shalat jumat dengan beberapa orang saja, seperti jumatan bertiga, berempat dan seterusnya.

Jika ada pertanyaan bahwa bukankah syaratnya shalat jumat itu dengan sedikitnya 40 orang, maka sesungguhnya dalam hal jumlah jamaah ini, para ulama fikih berbeda pendapatnya. Muhammad Hasan Al-Syaibani dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa jumlah minimal jamaah shalat jumat adalah 3 orang. Mazhab Maliki berpendapat 12 orang dan Mazhab Syafi’i berpendapat 40 orang.

Perihal waktu pelaksanaannya, maka sebagai contoh di Tunisia yang bermazhab Maliki, shalat jumat dilaksanakan sebanyak 3 gelombang. Ada yang mulai jam 12.00, 13.30, dan 14.30. Maka jamaah yang tidak sempat jumatan jam 12.00, bisa ikut gelombang kedua atau ketiga. Pendek kata, menurut mazhab Maliki, waktu shalat jumat sama panjangnya dengan waktu shalat dhuhur. Selama belum masuk waktu shalat Ashar, maka masih ada kesempatan untuk melaksanakan shalat jumat.

Alternatif lain, jika kita tidak sepaham dengan pendapatnya Imam Maliki dan Hanafi ini, maka cukup bagi kita untuk  melaksanakan shalat dhuhur saja. Alasannya adalah penentuan kewajiban shalat jumat itu datang belakangan. Pada awalnya atau asalnya pada hari jumat, kewajiban hanya pada shalat dhuhur saja, lalu kemudian datanglah hukum shalat jumat. Sehingga jika kita tidak bisa melaksanakan shalat jumat, maka kembali saja ke hukum asal, yaitu shalat zhuhur. Dalam kitab subulussalam, dikatakan:

الظهر هو الفرض الأصلى المفروض ليلة الإسراء والجمعة متأخرا فرضها ثم إذا فاتت وجب الظهر إجماعا فهى البدل عنه

Kemudian, ada hal yang perlu diperhatikan juga bahwasanya pelaksanaan shalat jumat itu diwajibkan bagi orang yang mukim, tidak wajib bagi orang yang sedang berada dalam perjalanan atau musafir. Bahkan menurut mazhab Hanafi, pelaksanaan shalat jumat juga disyaratkan untuk mendapatkan izin dari penguasa setempat, tanpa ada izin maka gugurlah kewajiban pelaksanaannya. Mazhab Hambali juga mengatakan bahwa jika kondisi cuaca sangat panas dan terlalu dingin, atau kondisi tertentu yang mengakibatkan terancamnya harta, kehormatan atau jiwa (termasuk resiko kehilangan pekerjaan atau gagal studi)  maka juga gugur kewajiban pelaksanaannya. Bahkan hujan lebat saja bisa menggugurkan kewajibannya ini dengan menggantikannya dengan shalat dhuhur.

Kesimpulannya, usahakan dahulu untuk melaksanakan shalat jumat berjamaah, jangan karena hal yang sepele, lalu tidak shalat jumat di masjid berjamaah. Alternatif diatas hanya bisa kita gunakan dalam hal-hal dan kondisi-kondisi tertentu saja. Bukan berarti saya menganjurkan untuk tidak shalat jumat. Poin sejatinya adalah betapa agama ini sangat fleksibel, betullah bahwa ia adalah agama yang ‘yassir wal tu’assir’….

Wallahu a’lam bisshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here