Kita Orang Indragiri Hilir (14 Juni 1965 – 14 Juni 2019) | Junaidy bin Ismail Abdullah

0
504

INDRAGIRI.com, OPINI – Kita adalah Orang Indragiri Hilir. Kita yang hidup berpuak-puak dan bersuku-suku namun menyatu didataran subur tanah redang berair gambut dengan lumpur lembut bertabun semakin merah coklat pekat dikala musim penghujan. Tiupan angin dan pasang surut air laut memberikan kelir nafas denyut kehidupan budaya pesisir yang kental. Getir pahit, kelat, asam dan manisnya kehidupan alam Indragiri Hilir telah bersatu padu dengan kita yang senantiasa kua, tangguh dan tabah menghadapinya. Kita berpakat untuk merancang kehidupan yang lebih baik secara bersama-sama untuk menggapai titik keseimbangan lahir dan bathin. Sebahagian kita bermula sebagai anak dagang yang datang dari berbagai pulau dan tanah asal dengan berbagai corak budaya dengan perilaku yang akar resam berbeda-beda.

Kita mendiami negeri tuah Melayu tapak kejayaan Kesultanan Riau Lingga dan Kesultanan Indragiri. Para Sultan pemegang tampuk daulat negeri Riau Lingga dan Indragiri telah memberikan laluan untuk mempersilakan kepada kaum anak dagang yang ingin merempuh kehidupan saling beriringan dan berdampingan dengan anak jati Melayu tempatan. Pulau Borneo dan Celebes serta tanah Jawi ataupun nusa yang lain, telah kita tinggalkan. Dataran Tiongkok serta negeri belahan barat, timur, utara dan selatan Sumatera kita jadikan kampung halaman kenangan. Pengembaraan kita telah sampai kepada titik kumpul dan titik temu. Kita berlabuh dan bersebati dengan tepian dan bentang alam Sumatera tanah Melayu Indragiri Hilir yang bertanah basah (wetland) hutan dataran rendah Sumatera untuk menggantungkan harapan dengan segala cita-cita yang mulia.

Dari Tanjung Ungka, Tanjung Jungkir, Tanjung Datuk, Tanjung Bakung hingga Tanjung Labu pesisir yang menghadap ke Selat Berhala. Tepian yang memberikan garis batas antara lautan dengan daratan dalam rangkaian halaman bermain dan berusaha untuk menyongsong kehidupan dimasa depan. Kita berlayar dan berkayuh mudik ke hulu menyusuri alur dan menyongsong arus sungai-sungai meninggalkan tanjung dan muara. Di Sungai Danai, Guntung, Kateman, Ibu Mandah, Pelanduk, Bantayan, Batang Tumu, Gaung, Anak Serka, Batang Tuaka, Indragiri, Enok, Gangsal, Reteh dan Keritang menjadi tanah perjuangan. Berpeluh tanpa berkeluh, berkisah tanpa kesah. Kita berhuma menanam padi, berpondok menanam pohon kelapa dan pohon para dengan mengandalkan pohon rumbia dengan saripati sagu sebagai dasar sumber pangan mengganjal perut. Mencacak dan menegakkan pancang jermal dan togok untuk mendapatkan lauk pauk.

Beselang bersama kita membangun pondok dan rumah panggung berlantai dan berdinding kayu serta beratapkan daun rumbia ataupun daun nipah untuk tempat bernaung dari terik panas matahari dan derasnya air hujan. Kita telah menjadi Orang Indragiri Hilir sejati. Kita tidak pernah menggantang asa untuk berbalik tadah ke kampung tanah darah asal budaya datuk moyang kita. Walaupun kita telah menyimak dengan cermat ujah ceritera dari datuk moyang tentang kemolekan dan keindahan kampung halamannya. Kita telah berazam bermastautin di negeri ini sebagai tanah tumpah darah dan tanah daerah budaya yang kita cintai hingga akhir hayat. Namun  kita juga tetap mewarisi tradisi yang dibawa datok moyang dari tanah darah budaya untuk senantiasa lestari.

Tidak terhitung depa parit yang sudah digali dengan bertungkus lumus. Tekun dan tunak untuk mengeringkan tanah redang yang berhumus asam menjadi lahan subur ditanami barisan kebun kelapa. Tepian sungai yang bertanah lempung dijadikan sebagai  tanah ladang sumber lumbung pangan. Sedangkan tanah berpaya-paya berair payau ditanami pohon rumbia. Secebis dataran berbukit di hulu Gangsal, Keritang dan Reteh ditanami pohon getah. Keteguhan dan kesabaran yang mengabaikan keletihan dan kelelahan untuk mengeringkan dan mengolah tanah berbuahkan hasil. Kelapa bermayang dan berputik, padi berbulir dan menguning, rumbia berbatang mengandung santan sagu, pohon para ditakik dan meleleh mengeluarkan getah perca. Sumber kehidupan telah ditata sedemikian rupa agar anak cucu hidup berkekalan jangan sampai gundah gulana dan papa kedana.

Berkilas balik pada hari Senin tanggal 14 Juni 1965 melalui Undang-Undang Nomor 6 tahun 1965 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Inderagiri Hilir dengan Mengubah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956, Tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Sumatera Tengah. Undang-Undang ini disahkan oleh Presiden Republik Indonesia Sukarno dan diundangkan oleh Sekretaris Negara Mohd. Ichsan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 49. Saat itu Republik Indonesia menjelang usia dua puluh tahun kemerdekaan lepas dari belenggu penjajahan.

Batang tubuh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1965 terdiri atas 2 (dua) Bab dan 13 (tiga belas) pasal mengatur terbentuk Pemerintah Daerah Tingkat II Inderagiri Hulu dan Pemerintah Daerah Tingkat II Inderagiri Hilir. Maka resmilah Tingkat II Inderagiri yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956 dimekarkan menjadi 2 (dua) yaitu Pemerintah Daerah Tingkat II Inderagiri Hulu berkedudukan di Rengat dan Pemerintah Daerah Tingkat II Inderagiri Hilir berkedudukan di Tembilahan. Pemerintah Tingkat II Inderagiri Hilir terdiri atas 8 (delapan) kecamatan yaitu Tempuling, Tembilahan, Kateman, Gaung Anak Serka, Mandah, Kuala Inderagiri, Enok dan Reteh. Pemerintah Daerah Tingkat II Indragiri Hilir bernaung pada Daerah Swatantra Tingkat I Riau yang telah dibentuk melalui Undang-Undang Darurat Republik Indonesia  Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat I Sumatera Barat, Jambi Dan Riau yang ditetapkan di Denpasar pada tanggal 9 Agustus 1957.

Itulah… Kita orang Indragiri Hilir yang berada di bentang alam pesisir Timur Pulau Sumatera di Selatan Provinsi Riau. Hari ini Jumat tanggal 14 Juni 2019 melaksanakan milad yang ke-54 untuk menuju Kejayaan dan Kegemilangan. Semoga mulai hari ini dan selanjutnya, kita bersama anak cucu fasih dan bangga menyatakan “Kita Orang Indragiri Hilir”. Karena kita bukan lagi anak dagang akan tetapi telah menjadi pewaris dan pemilik utama dari rumah besar Indragiri Hilir, Bumi Seribu Parit, Negeri Hamparan Kelapa Dunia. Kita gembira dan bahagia hidup di Bumi Sri Gemilang sebagaimana nyanyian Dendang Sri Gemilang yang diciptakan Almarhum Hamzah Jisa dilantunkan dengan merdu oleh Yang Amat Berhormat Tuan Rusli Zainal dan Puan Syarifah Dewi Noverita, dengan untaian bait lagu berikut ini :

Tasik Gemilang aduhai sayang airnya tenang
Tempat memancing…memancing ikan haruan
Tasik Gemilang aduhai sayang airnya tenang
Tempat memancing…memancing ikan haruan

Marilah kite semua satu pandangan
Membangun negeri… membangun
Tuk mase depan

Panglima Sulung aduhai sayang pahlawan negeri…
Gagah perkase, perkase… dalam berjuang
Panglima Sulung aduhai sayang pahlawan negeri…
Gagah perkase, perkase… dalam berjuang

Andainya kite semue bersatu hati
Kerje yang payah hai Tuan menjadi senang
Andainya kite semue bersatu hati
Kerje yang payah hai Tuan menjadi senang

Mari bersame bersame kita gembira
Dalam jamuan, jamuan… kite rayekan
Mari bersame, bersame kita menyanyi
Dalam irama lagu dendang Sri Gemilang

Nana…Nanana…Nanaaa…
Marilah membangun negeri.. Sri Gemilang…

Mari bersame bersame kita gembira
Dalam jamuan, jamuan… kite rayekan
Mari bersame, bersame kita menyanyi
Dalam irama lagu dendang Sri Gemilang

Nana…Nanana…Nanaaa…

Marilah membangun negeri.. Sri Gemilang…

Dendang Sri Gemilang…
Dendang Sri Gemilang…
Dendang Sri Gemilang…

Selamat Milad Kabupaten Indragiri Hilir ke 54 menuju kemakmuran dan kesejahteraan kita bersama yang diridhoi Allah SWT. #inhilnanmolek

______________________________________

* Junaidy bin Ismail Abdullah, yang lahir di tepian Sungai Igal pernah tinggal ditepian  Sungai Pelanduk, Gangsal,  Reteh, Ibu Mandah, Sapat Dalam. Masa ini bermukim antara Parit 14 dan Parit 15 Tembilahan ditepian Sungai Indragiri.