PALESTINA: 2000 SM SAMPAI SEKARANG ( Bagian 2 Habis)

0
45
Foto : Tank dan buldoser Israel (Infopalestina)

INDRAGIRI.com, KHAZANAH – Resah juga merespon desakan dari kawan-kawan yang seakan kompak memiliki satu jenis pertanyaan “Kapan sambungan tulisan kemaren dimuat?”. Bukannya tidak mengindahkan permintaan-permintaan tersebut tapi jujur saja saya diterpa kesibukan yang diluar kebiasaan, ditambah lagi segala macam pernak-pernik kehidupan yang menguras konsentrasi hingga fokus pun mencabang ke sana ke mari. Tapi sudahlah, demi menyebarkan manfaat kepada sesama, maka sambungan cerita dari episode pertama itupun saya selesaikan, dan hadir sekarang dihadapan anda cerita episode kedua.

Masih ingat kan ending episode pertama? Kalau lupa, emang masalah buat gue?! Hehehe, jangan baper ya… Singkat cerita, maka selamatlah Nabi Musa beserta umatnya yang notabene Bani Israil itu dari kejaran Firaun yang tenggelam ditelan Laut Merah.  Mereka akhirnya terdampar di sebuah gurun pasir yang disebut Gurun Sinai. Dari sini, dengan segala daya upaya dan semangat yang membara, mereka telusuri setiap wilayah yang membentang panjang dengan terik matahari membara. Hampir mirip dengan cerita Jenderal Sudirman dan pasukannya dengan semangat 45 di dada, hanya beda medannya saja.

Bersama dengan Nabi Musa dan Harun,  mereka berjalan melewati Padang Pasir Syur nan tandus. Semangat tanpa menyerah ini timbul dan tertanam begitu kuat dalam hati sanubari mereka karena Allah SWT telah memerintahkan mereka untuk keluar dari Mesir dan menuju ke tanah yang telah dijanjikan sebagaimana yang Allah SWT ceritakan dalam al-Quran (5:21). Itulah daerah sebelah Timur Kan’an yang sekarang disebut dengan Palestina.

Saya teringat dengan film Far and Away yang dibintangi oleh Tom Cruise bersama istrinya Nicole Kidmann, bercerita tentang sengitnya persaingan dalam memperebutkan sebidang tanah di benua Amerika tatkala benua tersebut baru dibuka. Yang membuat saya selalu ingat dengan film tersebut bukanlah karena film itu mirip dengan pergulatan Bani Israil dalam meraih tanah yang dijanjikan, namun terlebih karena kata orang-orang, saya itu mirip sekali dengan Tom Cruise. Jelas-jelas tudingan ini saya tolak mentah-mentah, wong Tom Cruise yang mirip dengan saya, bukan saya yang mirip dengan dia. Catat!

Demikian tinggi semangat itu sehingga segala rintangan tak terasa mereka lewati. Betapa tidak, coba saja anda bayangkan sendiri, berjalan kaki ditengah padang pasir dengan perbekalan seadanya dan peralatan yang tidak layak. Kalau anda tantang saya, terimakasih banyak lah… lebih baik jalan kaki di Nagoya Hill dari pada di padang pasir Hill. Para ahli tafsir, sebut saja Abu Ja’far Ibnu Jarir at-Thabari, mengatakan bahwa bukan hanya gurun pasir yang mereka taklukkan, namun juga iklim dan cuaca panas yang tanaman dan pepohonan serta hewan pun tidak dapat tumbuh dan hidup disana. Apalagi manusia dengan segala emosi yang bergejolak turun naik dalam dirinya. Hebatnya, tetap saja mereka melangkah dan berjalan dengan segala kesanggupan yang ada.

Dari Padang Syur tersebut, mereka melanjutkan perjalanan ke Sana’, lalu Mara, kemudian ke daerah yang disebut Elim hingga akhirnya tibalah disebuah daerah yang dipanggil Thursina. Saking sayangnya Allah SWT kepada Nabi Musa dan Bani Israil, segala kemudahan selalu diberikan oleh Yang Serba Maha kepada mereka. Bahkan para ahli sejarah menyatakan, dari seluruh bangsa yang ada di dunia ini, mungkin hanya Bangsa Israil yang dirasa mendapatkan sedemikian banyak limpahan nikmat dari Allah SWT. Contohnya saja dalam perjalanan di kisah ini, pernah Nabi Musa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan air minum untuk kaumnya yang kehausan di gurun pasir Sin, maka Allah SWT menyuruh Nabi Musa untuk memukul batuan dan serta merta terpancarlah 12 mata air untuk diminum oleh setiap golongan dari Bani Israil.

Banyak lagi, seperti gumpalan awan yang seakan payung mengiringi setiap arah langkah mereka. Begitu pula saat mereka lapar dan tidak memiliki persediaan makanan yang cukup, maka Allah SWT menurunkan Manna dan Salwa sebagai makanan bagi mereka. Silahkan lihat al-Baqarah ayat 57. Masih tidak percaya juga? Jangan ikut-ikutan Yahudi ente!

Mengenai makanan bernama Manna dan Salwa, para ulama tafsir memiliki perbedaan pendapat. Ibnu Munzir dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Manna adalah makanan manis, berwarna putih yang biasanya melekat pada bebatuan dan daun-daun kayu. Rasanya manis dan enak semanis madu sehingga ada tafsiran lain yang mengatakannya sejenis madu. Jika ia dimakan, maka yang memakannya akan merasa kenyang dalam waktu yang lama.

Adapun menurut  Syeikh Mutawalli Sya’rawi, Manna adalah sejenis makanan berbiji-biji dengan warna merah yang terhimpun pada dedaunan. Sampai saat ini menurut beliau, Manna masih dapat ditemukan di sebahagian daerah di Iraq. Ada juga pendapat yang lain sebagaimana yang dikatakan oleh Thahir bin Asyur, bahwa Manna adalah satu jenis bahan makanan berbentuk jem dari udara yang hinggap di dedaunan, mirip dengan gandum basah. Rasanya manis bercampur asam dan berwarna kekuning-kuningan. Banyak ditemukan di Turkistan.

Adapun Salwa adalah sejenis burung, yang sebagian riwayat juga mengatakan bahwa salwa adalah sebangsa burung puyuh.Secara scientific, dari hasil penelitian Dokter al-Mu’taz al-Marzuki sebagaimana yang dikatakan oleh Zaglur an-Najjar, penggabungan antara Manna dan Salwa adalah penggabungan antara Karbohidrat dan Nabati yang dikandung Manna, dan protein hewani yang dikandung Salwa. Dari keduanya, timbul enerji yang membangung sel-sel dalam tubuh manusia. Apapun itu, yang jelas bahwa Bangsa Israil awalnya adalah bangsa yang sangat diistimewakan oleh Allah SWT sehingga banyak diberikan nikmat dan limpahan kasih sayang dari Allah SWT.

Kembali kita ke alur cerita sebenarnya. Bukit Thursina inilah saksi sejarah watak Bani Israil sesungguhnya. Setibanya di Bukit Thursina, mereka mulai menggerutu dan mengumpat-ngumpat sepanjang perjalanan. Kericuhan mulai menyeruak. Semangat yang sedari awal tertanam kokoh mulai goyah ditambah lagi dengan keyakinan akan tanah yang dijanjikan itu mulai melemah. Bahkan, mereka mulai menyesal mengikuti ajakan Nabi Musa dan Harun yang telah membawa mereka hijrah keluar dari Mesir. Di daerah Thursina ini mereka mendirikan perkampungan sementara. Nabi Musa kemudian pergi meninggalkan mereka dan menuju ke salah satu sisi Bukit Thursina selama 40 hari untuk mendapatkan wahyu dari Allah SWT berupa Taurat. Kepergian Nabi Musa ini kemudian dimanfaatkan oleh seorang pengikutnya bernama Samiri yang mengajak Bani Israil menyembah patung anak sapi. Pesan moralnya: Jangan pernah memberi nama anak anda Samiri, lebih baik Sami’un.

Dari sinilah dan dalam perjalanan selanjutnya, sedikit demi sedikit karakter asli mereka yang tidak pandai bersyukur dan pembangkang kian nampak. Setelah mendapatkan Taurat, Nabi Musa mengajak seluruh Bani Israil untuk beriman kepada Taurat. Namun mereka malah ragu dan ingkar sebagaimana yang diceritakan dalam al-Quran (2:55). Bahkan keingkaran dan kekufuran mereka semakin bertambah, tatkala mereka sudah sampai di daerah yang dijanjikan, mereka enggan memasukinya, setelah mereka mendapati bahwa tanah yang dijanjikan tersebut dikuasai oleh kaum yang kuat dan gagah dari keturunan Haistaniyyin, Fazariyyin dan Kan’aniyyin.

Termaktub dalam al-Quran keingkaran mereka (5:24) “Hai Musa, kami sampai kapanpun tidak mau memasukinya, selagi mereka ada didalamnya. Karena itu, engkau saja bersama Tuhanmu yang masuk kesana memerangi mereka, pergi lah berdua dan kami disini saja duduk-duduk dan menunggu”. Ampun deh, mau enaknya aja… Murkalah Allah. Merekapun berstatus homeless selama 40 tahun, terluntang lantung di gurun-gurun pasir tanpa ada satu daerah pun yang sudi menerima mereka. Singkat cerita, sebelum sampai di Kan’an (Palestina), Nabi Harun wafat. Sebagai pengganti beliau membantu Nabi Musa, ditunjuklah Eliazar (mirip nama wali kelas saya waktu kelas 6 SD dulu, Apa kabar pak Elizar..? hehe..), putra Nabi Harun. Tak lama kemudian, Nabi Musa juga wafat dan beliau berwasiat kepada Bani Israil untuk meneruskan cita-cita memasuki negeri Kan’an (Palestina).

Kepemimpinan Eliazar kemudian diestafeti oleh Yusa bin Nuun. Dibawah kepemimpinan Yusa inilah Bani Israil berhasil memerangi dan mengalahkan bangsa Haistaniyyin, Fazariyyin dan Kan’aniyyin, sehingga mereka akhirnya menguasai tanah yang dijanjikan, yaitu Kan’an atau Palestina. Setelah Bani Israil berhasil menaklukkan Palestina, maka mulailah Palestina dibagi menjadi 12 wilayah. Yang pertama menjadi raja adalah Thalut yang memerintah antara tahun 1042-1012 SM. Dilanjutkan oleh Daud sekitar 40 tahun (1012-972 SM) dan berhasil menjadikan wilayah ini sebagai sebuah wilayah yang berpengaruh. Daud kemudian digantikan oleh anaknya Raja Sulaiman yang juga memerintah selama lebih kurang 40 tahun (972-937 SM). Periodesasi dari Thalut hingga Nabi Sulaiman ini termaktub jelas dalam alQuran (2 : 246-252).

Selama pemerintahan Raja Sulaiman, batas-batas Palestina diperluas dari Sungai Nil di Selatan hingga Sungai Eufrat di Utara. Ini adalah masa gemilang bagi kerajaan Bani Israil dalam banyak bidang. Dan pada zaman ini juga didirikan Haikal (Baitul Maqdis) yang sangat megah oleh Raja Sulaiman. Sebagai catatan, Raja Sulaiman adalah raja yang paling kaya yang pernah ada di dunia ini. Tidak ada raja yang lebih kaya dan berkuasa dibandingkan beliau. Bayangkan saja, bangsa Jin rela menceburkan diri menyelam ke dalam lautan untuk mengambil mutiara yang hanya dipersembahkan kepada Raja Sulaiman. Apakah ada raja atau presiden yang memiliki pasukan dari bangsa Jin yang setia seperti itu? Yang ada malah raja dan presidennya yang takut sama Jin. Lebih dari itu, angin pun rela menjadi kendaraan bagi Raja Sulaiman untuk berpergian dan terbang kemana-mana sesuka hatinya. Apakah ada raja atau presiden yang memiliki kendaraan yang sama? Jangan kan begitu, yang ada malah kendaraan raja atau presiden yang membikin macet jalan raya, bikin susah rakyat saja.

Saya kira kita sambung lagi ke episode ke 3 di lain hari. Kebetulan saya lagi pusing karena dari tadi terjebak macet. Entah apa gerangan yang membuat macet ini. Yang pasti bukan “kendaraannya” Raja Sulaiman. Wallahu a’lam.

________________________________

Ust. Sofiandi, Menyelesaikan pendidikan dasar Islam di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta. Lalu melanjutkan studi ke University of the Punjab, Lahore, Pakistan. Dan saat ini sedang menyelesaikan studi S-3 di UTHM Malaysia (Mohon Doa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here