Palestina: Dari 2000 SM Sampai Sekarang  (Bagian I)

0
90
Foto : Tank dan buldoser Israel (Infopalestina)

INDRAGIRI.com, KHAZANAH – Semenjak mencuatnya berita tentang pengakuan Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel oleh Amerika Serikat, dengan cepat kabar ini menjadi demam bagi segenap masyarakat di seluruh dunia. Reaksi nasional dan internasional mengenai hal ini bermunculan bagai kembang api memecah dan menghiasi angkasa.

Silih berganti dan tanpa henti ulasan politik serta diskusi tingkat tinggi berlangsung hingga saat ini. Bahkan mereka yang tak mengerti atmosfir sosio-ekonomi dan politik Timur Tengah tidak ketinggalan menghiasi jagad perbincangan di tiap sudut warung kopi. Seakan gurihnya luti gendang dan nikmatnya kopi O yang terhidang di atas meja telah tersedot habis oleh daya tarik Yerussalem punya diskusi.

Sebelum lebih jauh anda membaca tulisan ini, terlebih dahulu ingin saya ingatkan bahwa saya menulis tidak dalam upaya merespon apapun dari perkembangan yang sedang terjadi. Demikian karena jujur, saya merasa apatis dan pesimis (jika tidak dikatakan muak) terhadap semua akrobat politik nasional-internasional yang dipertontonkan oleh para negarawan di dunia ini.

Menurut saya, justru semakin lama mereka berada dalam tataran diplomatik, semakin banyak pula orang Palestina yang akhirnya mati. Ending cerita: Palestina yang mati. Sudah lah… mana ada hukum internasional yang bisa dijamin menjadi rujukan sebuah sengketa lintas negara. Apalagi jika kasusnya menyangkut negara-negara adidaya versus negara tanpa daya. Mirip-miriplah dengan hukum di negara kita.

Tapi memang begitulah. Sehingga kegelisahan ini juga memuncak dalam diri seorang ahli hukum bernama Hugo Grotius (1645). Tanpa henti, Hugo mencoba meyakinkan kolega ahli hukum lain untuk dapat memasukkan hukum internasional ke dalam rumpun ilmu hukum sebagaimana pidana, perdata dan tata negara.

Hukum, sebagaimana yang saya ajarkan kepada mahasiswa, adalah perangkat aturan yang digunakan untuk mengatur tingkah laku manusia. Begitu kira-kira bahasa ringannya. Oleh karena itu, hukum bersifat memaksa dan sebagai konsekwensi dari sifat tersebut, ada ancaman sanksi dan atau pidana.

Disinilah titik lemahnya hukum internasional. Ia tidak memiliki sifat yang absolut dan sempurna sehingga bisa memberikan sifat memaksa. Maka, dari dulu selalu saja negara-negara adidaya mencengkram dan memainkan telunjuk kotornya kepada negara-negara tanpa daya. Dalam segala dimensi dan arti keberdayaan. Inilah kenapa saya tidak tertarik menulis dalam nuansa hukum atau politik karena hanya membuang-buang enerji. “Dia” kok dilawan?!…. Begitu kira-kira. Kalaupun ada upaya berbentuk “slogan perlawanan” dari segelintir politisi, itu tak lebih daripada menangkap momen dan menghias diri, jangan pernah termakan. Percayalah!

Begini, dari beberapa “diskusi kopi” tentang Palestina yang saya alami, saya menangkap bahwa masih banyak dari kita yang tidak mengerti betul barang itu. Masih banyak pertanyaan apa dan siapa serta bagaimana dalam kisaran diskusi-diskusi Palestina tersebut. Yang banyak diketahui hanya apa yang tersaji dalam pemberitaan dasarwarsa ini. Adapun asal muasal dan akar masalah, tidak banyak yang memiliki basic and in-depth understanding.

Maka, disinilah saya mencoba menulis. Lebih nyaman terasa karena saya hanya menampilkan fakta sejarah yang kemudian untuk bisa dibagi kepada anda pembaca. Paling tidak, ada-lah satu atau dua orang yang memberikan pondasi dasar untuk bahan diskusi di warung kopi satu jam lagi. Yuk… kita mulai!

Sejarah tanah suci 3 agama samawi ini sesungguhnya bermula sejak 2000an tahun Sebelum Masehi (SM). Jadi, diskusi kita kali ini sangat jauh kebelakang, ke zaman yang entah bagaimana bisa kita bayangkan. Nabi Ibrahim membawa pengikutnya untuk hijrah dari Babilonia (daerah Mesir-Irak dekat dengan sungai Eufrat) akibat penindasan yang mereka alami dari Raja Namruz sang penguasa saat itu.

Sebagai tujuan dari hijrah tersebut, sebuah daerah yang bernama Kan’an. Kan’an ini adalah istilah saat itu untuk merujuk kawasan yang sekarang kita kenal dengan Palestina. Menurut cerita, karena Nabi Ibrahim dan pengikutnya harus melalui jalan dengan cara menyeberangi sungai Eufrat, maka mereka diberi julukan orang-orang Ibrani, yang berarti orang yang menyeberang. Nama Palestina sendiri diambil dari nama Filistin, sebuah suku nelayan yang tinggal di pinggiran wilayah Kan’an.

Nabi Ibrahim memiliki 2 anak, yaitu Ismail yang lahir dari rahim Siti Hajar dan Ishak dari rahim Sarah, yang keduanya merupakan nabi utusan Allah SWT. Maka berkuasalah Nabi Ibrahim di kawasan Kan’an tersebut. Sampai pada akhirnya, tatkala Nabi Ibrahim mangkat pada usia 195 tahun, kekuasaan kemudian berpindah kepada sang putra Ishak. Oleh karena itulah, di buku-buku kisah para nabi, kita ketahui bahwa Nabi Ishak diutus kepada Kaum Kan’an, khususnya yang berada di wilayah Hebron.

Nabi Ishak sendiri memiliki keturunan yang juga berstatus nabi, yaitu Ya’kub. Sebagai seorang raja, Nabi Ya’kub memiliki gelar kehormatan yang disebut Israil. Dan dari Ya’kub inilah Bani Israil atau Bangsa Israel bernasab. Keturunan awal (baca: anak) Nabi Ya’kub sendiri berjumlah 12 orang, yang terkenal diantaranya adalah Yusuf, nabi yang ganteng itu (Alhamdulillah kegantengannya menurun ke saya, ehem…) dan satu lagi, bernama Yahuda. Di antara seluruh putra Nabi Ya’kub, yang paling banyak memiliki keturunan adalah putra beliau yang bernama Yahuda. Oleh karena itu, Bani Israil kemudian dibangsakan kepada Yahuda sehingga akhirnya disebut dengan Orang Yahudi.

Ada yang lucu dari nama Israil ini. Kata Israil, sebagaimana yang termaktub dalam rujukan dan literasi bahasa Arab, memiliki arti “Pilihan Allah” atau “Hamba Allah yang Taat”. Namun, tidak demikian dalam pemahaman Yahudi. Menurut mereka, Israil berarti “orang yang bergulat dengan Tuhan”. Dalam bahasa kaum yahudi, “Isra” artinya bergulat dan “il” artinya Tuhan. Hal ini mereka yakini karena menurut mereka kejadian ini benar terjadi di sebuah lembah di kawasan Yordania, seperti yang tertera dalam kitab Taurat mereka (Injil perjanjian lama), surah Kitab Kejadian, juz 32, ayat 25-29. Dimana dalam pergulatan tersebut, Ya’kub berhasil memukul KO tuhannya. Saya menulis ini sambil membayangkan pertandingan MMA di salah satu  channel televisi kita. Coba saja saat itu Connor McGregor, sang juara dunia UFC, sudah hidup, pasti menyajikan pertandingan yang sangat menarik dan menengangkan. Tertarik menjadi sponsor?

Singkat sejarah, kisaran tahun 1550 hingga 1200 SM, salah seorang putra Nabi Ya’kub berhasil menjadi pejabat di dalam pemerintahan Raja Firaun di Mesir. Dialah Yusuf AS. Pada saat itu, situasi politik berubah sehingga orang-orang Ibrani dari Kan’an bebas hidup dan keluar masuk ke dalam wilayah Mesir. Pada saat paceklik melanda kawasan ini, Nabi Ya’kub dan seluruh keluarga berimigrasi ke Mesir atas undangan Nabi Yusuf. Disinilah populasi keturunan Israil membesar.

Perubahan arah mata angin politik di Mesir berabad-abad kemudian, membuat Firaun yang memerintah saat itu, bernama Thotmosis, menganggap Bani Israel sebagai sebuah masalah karena kepercayaan agama “hanif” yang dianut dan ancaman yang diakibatkan oleh pertumbuhan populasi yang semakin membesar. Status mereka kemudian diubah menjadi budak. Maka diutuslah oleh Allah SWT Nabi Musa dan Harun, sekitar tahun 1200an SM, untuk membebaskan Bangsa Israel dari penindasan Firaun dan sekaligus mengajak Firaun untuk mengikuti agama “hanif” yang merupakan kepercayaan turun-temurun dari moyang mereka, Nabi Ibrahim AS.

Melihat kenyataan yang semakin memburuk, maka Nabi Musa mengajak Bani Israel untuk “balik kampung” ke Kan’an, sebagaimana langkah yang sebelumnya pernah diambil oleh Moyang mereka Ibrahim, dan terbukti sukses. Mulailah mereka melakukan perjalanan “mudik” namun dikejar oleh Firaun beserta bala tentaranya. Pertolongan Allah SWT pun turun, maka tenggelamlah Firaun di Laut Merah. Sedangkan Nabi Musa bersama umatnya selamat menyeberangi lautan yang terbelah dan tiba di gurun pasir Sinai.

Tak terasa, saking terbawa alur cerita, dada saya berdetak kencang seakan saya termasuk salah satu dari orang-orang yang dikejar Firaun tadi. Lebih baik rehat sejenaklah. Kita sambung pada tayangan selanjutnya (Bersambung).

_________________________________

Ust. Sofiandi, Menyelesaikan pendidikan dasar Islam di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta. Lalu melanjutkan studi ke University of the Punjab, Lahore, Pakistan. Dan saat ini sedang menyelesaikan studi S-3 di UTHM Malaysia (Mohon Doa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here