Media sosial awalnya diciptakan untuk kebaikan—untuk berbagi informasi, mempererat hubungan, dan memperluas wawasan. Namun, kini fungsinya semakin bergeser. Alih-alih menjadi sarana berbagi manfaat, banyak yang justru menjadikannya tempat mencari cuan dengan cara yang tidak etis. Konten-konten viral lebih sering berisi hal-hal yang justru merusak, mengumbar aurat, menyebarkan berita bohong, hingga mempermalukan orang lain demi mendapatkan engagement dan keuntungan materi. Yang lebih miris, hal ini dilakukan tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain.
Saat ini, hampir semua lapisan masyarakat sudah akrab dengan medsos—bukan hanya anak muda, tapi juga ibu rumah tangga hingga anak-anak sekolah. Sayangnya, banyak yang belum memahami batasan dalam menggunakannya.
Kita sering melihat berita-berita hoaks menyebar begitu cepat, video perselingkuhan diumbar ke publik, utang-piutang seseorang dijadikan bahan konsumsi warganet, hingga foto korban kecelakaan disebarluaskan tanpa empati. Semua itu dilakukan dengan dalih, "Medsos, medsos aku. Yang buat status aku. Kalau gak suka, skip aja." Seakan-akan medsos adalah ruang privat yang bebas digunakan tanpa aturan.
Padahal, yang namanya media sosial bukan hanya tentang kebebasan, tapi juga tentang tanggung jawab. Ada konsekuensi yang harus kita terima atas apa yang kita unggah dan sebarkan. Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sudah dengan tegas mengatur bahwa menyebarkan berita bohong, mencemarkan nama baik, atau menyebarluaskan informasi pribadi tanpa izin bisa berujung pada hukuman pidana. Hanya karena ingin viral, apakah kita rela mempertaruhkan masa depan kita sendiri?
Yang lebih menyedihkan, banyak dari kita tanpa sadar ikut menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Tanpa berpikir panjang, kita langsung klik "share" tanpa mencari tahu apakah berita itu benar atau tidak. Entah itu hoaks politik, fitnah terhadap seseorang, atau bahkan sekadar berita lama yang dikemas ulang agar terlihat baru. Yang penting menarik, langsung sebarkan. Padahal, apa yang kita bagikan bisa merugikan orang lain, bahkan menghancurkan hidup mereka.
Sekarang, kita berada di bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah dan kebaikan. Seharusnya, ini menjadi momen bagi kita untuk lebih menjaga sikap, termasuk dalam bermedsos. Bukan soal siapa yang salah dan siapa yang benar, tetapi tentang bagaimana kita bisa saling mengingatkan sebagai saudara. Bukan soal iri dan dengki, tetapi tentang bagaimana kita bisa lebih bijak dalam berperilaku, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Medsos memang hak semua orang, tetapi hak itu bukan berarti tanpa batas. Jangan sampai jari-jari kita menjerumuskan kita sendiri. Jangan sampai hanya demi cuan dan eksistensi, kita kehilangan akal sehat dan hati nurani. Dan jangan sampai satu unggahan ceroboh di medsos menjadi penyesalan seumur hidup.
Bijaklah dalam bersosial media, karena di balik layar ada jejak yang tak bisa dihapus.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa!
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momen untuk memperbaiki diri.
_________
Sulaiman, Alumni SDN 017 Tagaraja (Saat ini SDN 011 Air Tawar) • Alumni MTI Sungai Guntung (Tsanawiyah & Aliyah) • Mahasiswa IAI AR-RISALAH INHIL RIAU, Fakultas Dakwah, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam
0 Komentar